Kehamilan Di Usia Matang

Kehamilan Di Usia Matang

Resiko terjadinya keguguran akan meningkat dengan semakin bertambahnya usia anda. Berikut adalah pembagiannya:

  • Sebelum usia 35 tahun – resikonya 15 persen.
  • Usia 35 sampai 39 – resikonya 20  sampai 25 persen.
  • Usia 40 sampai 42 – resikonya 35 persen
  • Usia diatas 42 – resikonya 50 persen.

Pregnantwoman

Anda beresiko terkena gestational diabetes.

Diabetes tipe ini hanya terjadi selama masa kehamilan. Control yang ketat gula darah melalui diet, olahraga dan  gaya hidup sehat lainnya sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi. Terkadang, penggunaan obat–obatan juga diperlukan. Perawatan yang anda jalani mungkin akan meliputi pemeriksaan rutin sebelum kelahiran yang lebih sering, dan tes gula darah secara regular di rumah.

Anda mungkin harus melahirkan secara Caesar

Banyak faktor yang menentukan disini. Contohnya :

  • Ibu hamil dengan usia diatas 35 tahun memiliki resiko yang lebih tinggi mengidap komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, seperti tekanan darah tinggi dan gestational diabetes. Problem seperti ini bisa menyebabkan diperlukannya kelahiran secara Caesar.
  • Besar kemungkinan saluran rahim anda lambat pembukaannya, yang juga dapat mnyebabkan diperlukannya operasi Caesar.
  • Bila bayi anda terlalu besar atau berat badan anda naik terlalu banyak – masalah yang biasa terjadi pada ibu hamil dengan usia yang lebih tua – kelahiran melalui vagina biasanya sulit terjadi.
  • Pada ibu hamil berusia diatas 35 tahun, bayi biasanya berada pada posisi yang menimbulkan komplikasi pada saat kelahiran, seperti bagian pantat atau kaki yang berada dibawah (sungsang).
  • Placenta previa – suatu keadaan dimana plasenta menutup saluran rahim baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian – yang menyebabkan diperlukan operasi Caesar.
  • Operasi Caesar seringkali direkomendasikan untuk kelahiran bayi kembar.

Siap fisik, siap mental?

Bagaimana dengan proses kematangan secara psikologis? Bahwa perkembangan masa dewasa bisa dibagi menjadi dewasa muda (usia 21-39), dewasa madya (usia 40-50) dan dewasa akhir (lanjut usia/lansia). Masing-masing fase memiliki ciri.

Masa dewasa muda merupakan masa membina kedekatan dan hubungan yang lebih dalam dengan lawan jenis. Ini bisa berarti masa membina kehidupan keluarga. Pada masa ini secara kepribadian seorang wanita sudah siap. Secara kognitif, perkembangan intelegensia dan pola pikirnya sudah matang. Ia mampu mengatasi konflik-konflik emosional.

Dewasa madya merupakan masa ketika secara kepribadian lebih mantap. Kehidupan wanita masa ini umumnya lebih tenang, sudah berkeluarga dan punya anak. Bagi yang berkarier, kariernya sudah mulai ‘jelas’.

Dimasa dewasa akhir, umumnya kehidupan wanita lebih tenang karena anak-anak mulai beranjak besar, sehingga lebih memiliki waktu untuk diri sendiri.

Lalu mengapa saat ini tak sedikit wanita muda usia muda, khususnya usia 20 tahunan malah menunda berkeluarga dan punya anak?

Kalau dilihat dari tahapan perkembangan kematangan tadi, sebenarnya wanita-wanita usia 20 tahun keatas itu siap punya anak. Mereka sudah sampai pada tahap kematangan kognitif, emosional, maupun aspek-aspek kepribadian lainnya. Tapi memang secara situasional, saat ini hanya sedikit wanita usia 20 tahunan yang langsung memutuskan menikah dan punya anak.

Biasanya, karena wanita-wanita usia 20 tahunan tersebut belum meletakkan prioritas utama hidupnya pada pernikahan. Mungkin mereka masih ingin menyelesaikan kuliah, atau ingin berkarier dulu. Bisa jadi keputusan ini juga karena pengaruh lingkungan.

Kehidupan berkembang sehingga dalam benak wanita-wanita 20 tahunan itu terbersit pikiran, ‘Kenapa pada masa ini saya harus mengurus bayi sementara teman-teman saya belum.’ Akibatnya mereka malah berkarier, meneruskan pendidikan ke jenjang berikut, dan lain-lain. Intinya, mereka lebih memilih mendapatkan kebebasan dan mengembangkan diri seoptimal mungkin dahulu. Padahal, kalau wanita usia 20 tahunan itu memutuskan untuk kuliah namun bersedia menjalankan kehamilan dan punya anak, ya tidak masalah.

Salah satu wanita itu adalah Mita (nama disamarkan, 26 tahun). Ketika memutuskan menikah, ia masih dalam tahap akhir kuliahnya di Fakultas Kedokteran. Bahkan saat hamil, dia bertugas sebagai co-ass di rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya.

Memang dalam perkembangan selanjutnya, wanita-wanita yang menikah dan punya anak di usia 20 tahunan, dimasa dewasa madya merasa tenang karena anak sudah besar dan punya waktu untuk diri sendiri. Kepuasan perkawinan bagi mereka meningkat tatkala masuk usia dewasa madya (40-an).

Bagi wanita yang menunda pernikahan dan keinginan punya anak, kelak dimasa usia dewasa madya malah sibuk mengurus bayi. Akibatnya kepuasan dimasa ini pun menurun. Apalagi meski secara mendasar diusia dewasa madya wanita lebih matang, tetapi secara fisik ia beresiko tinggi menjaga kehamilan dan persalinan. Ini bisa mendatangkan kecemasan.

Usia lanjut, rawan risiko

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang menurun.

Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama diusia lanjut, risiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, terutama sindroma Down.

Lebih lanjut, meningkatnya usia juga membuat kondisi dan fungsi rahim menurun. Salah satu akibatnya adalah jaringan rahim tak lagi subur. Padahal, dinding rahim tempat menempelnya plasenta. Kondisi ini memunculkan kecenderungan terjadinya plasenta previa atau plasenta tidak menempel di tempat semestinya.

Selain itu, jaringan rongga panggul dan otot-ototnya pun melemah sejalan pertambahan usia. Hal ini membuat rongga panggul tidak mudah lagi menghadapi dan mengatasi komplikasi yang berat, seperti perdarahan. Pada keadaan tertentu, kondisi hormonal tidak seoptimal usia sebelumnya. Itu sebabnya risiko keguguran, kematian janin, dan komplikasi lainnya juga meningkat.

Silakan hamil, asal….

Bagaimana bila seorang wanita baru menikah setelah usia 35 tahun, apakah mereka tidak diizinkan hamil? Tentu saja tidak! Hamil dan punya anak adalah hak asasi setiap wanita. Silakan jalani. Selayaknya wanita yang bersangkutan memahami segala konsekuensi kehamilan di usia tua, bahwa ia memasuki kehamilan dengan resiko. Jadi pada dasarnya tidak penting apakah seorang wanita menunda kehamilannya sehingga baru memutuskan hamil di usia lanjut atau karena memang menikahnya di usia lanjut, yang penting wanita itu menyadari betul usia berapa ia pertama kali hamil, dan sadar risikonya.

Semua terpulang pada individu yang bersangkutan. Standar ideal orang itu berbeda-beda. Hamil itu kan artinya siap jadi ibu. Banyak orang yang mau punya anak tapi masih sulit melihat bahwa mereka harus siap berkorban. Mereka harus siap memikirkan orang lain, terutama janinnya. Memang idealnya menikah dan punya anak dimasa usia prima, yaitu dibawah usia 30 tahun. Pada masa ini perkembangan kepribadian seorang wanita sudah siap. Maksudnya, sekolah sudah selesai dan sudah berkarier.

Seandainya belum memungkinkan hamil dan melahirkan di usia prima, sebaiknya periksakan diri secara teratur ke dokter. Dengan memperhatikan resiko, wanita bersangkutan harus lebih memperhatikan kondisi atau asupan gizinya. Karena, penurunan fungsi metabolisme tubuh dan nutrisi calon ibu sangat menentukan kondisi kehamilan dan persalinannya. Komplikasi yang mungkin muncul bisa ditekan bila kondisi keduanya baik.

Satu hal yang patut diingat adalah tak perlu terlalu takut seandainya baru bisa hamil pertama di usia lewat dari 35 tahun. Tidak semua wanita hamil mengalami resiko itu. Ini dialami Satyorini (nama disamarkan, 37 tahun). Kondisi kesehatan membuatnya terpaksa baru bisa menjalani kehamilan di usia ‘batas aman’. “Tetapi saya selalu berpikir positif dan tentu saja menjalani semua anjuran dokter”.

Konsultasi yang teratur memperkecil segala komplikasi. Menyadari dan memahami resiko yang bisa terjadi, wanita bersangkutan tentu perlu memiliki kesadaran tinggi  untuk menjaga dan memantau kondisi kesehatan tubuh dan janinnya, seperti memeriksakan diri dan janin secara teratur ke dokter kandungan.

Ketenangan di Kehamilan Pada Usia Matang

Sekarang bukan hal aneh bagi perempuan untuk mulai hamil diatas usia 35 tahun. Tapi ada hal-hal yang perlu diperhatikan, agar kehamilan di usia matang berjalan lancar dan selamat.

Usia paling ideal bagi seorang perempuan untuk mulai memiliki keturunan adalah pada umur 20 tahunan, dan berhenti pada usia 35 tahun. Itu sebabnya tak heran jika selama 20 tahun ini di Indonesia dikenal sebuah “rumus” kependudukan 2:5:35. Artinya, setiap pasangan diharapkan untuk memiliki 2 anak saja, dengan jarak 5 tahun, dan stop melahirkan setelah mencapai usia 35 tahun.

Namun, sekarang ini agak sulit untuk “mematuhi” rumus 2:5:35 tersebut. Banyak hal yang membuat perempuan belum melahirkan sampai usia 35 tahun. Bisa saja pasangan suami isteri menikah di usia 25-an tahun namun baru hamil setelah 10 tahun menikah. Atau banyak juga perempuan yang baru menikah diatas usia 35 tahun.

Melahirkan anak pertama di usia 35 tahun mengandung resiko yang tak sedikit. Kehamilan pertama di atas usia 35 tahun seperti ini beresiko tinggi, karena pada usia tersebut hormon perempuan mengalami penurunan fungsional karena sudah melewati masa puncaknya, yaitu usia 20-30 tahun.

Penurunan fungsional hormon ini berakibat menurunnya fungsi-fungsi tubuh, termasuk sel telur. Biasanya gangguannya bersifat hormonal, jadi lebih ke si ibu ketimbang janin, yang tak memungkiri, kondisi seperti ini sangat mungkin mengganggu janin juga. Terlebih jika si ibu tak bisa merawat kondisi kehamilan dan tubuhnya.

Awal Kehamilan

Secara keseluruhan, setelah melewati masa subur, kondisi fisiologis seorang perempuan akan menurun. Ini bisa berdampak pada menurunnya fungsi-fungsi organ tubuh, seperti jantung, ginjal, dan sebagainya. Sehingga kemungkinan perempuan terkena penyakit juga lebih besar. Akibatnya selain merawat kehamilannya, si ibu juga harus merawat dirinya pula.

Antisipasinya, rencanakan kehamilan sejak kehamilan pertama, kalau bisa hamil pertama sebelum berusia 35. Yang kedua, rajin kontrol ke dokter, sehingga jika terjadi gangguan, bisa terdeteksi lebih awal.

Sebelum hamil, sebaiknya periksakan dulu kondisi kesehatan ke dokter, karena bisa saja si calon ibu sudah mengidap penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, kolesterol tinggi, ginjal atau kelainan darah. Kalau semua penyakit diatas sudah bersarang di tubuh ibu, konsultasikan penyakit itu ke dokter penyakit dalam. Jika semua kondisi tubuh sudah baik, ibu pun lebih siap menghadapi kehamilannya.

Jika kehamilan sudah terjadi, setiap calon ibu dianjurkan untuk melakukan tes pada awal kehamilannya. Misalnya tes amnicontesis untuk mendiagnosa kromosom yang abnormal. Calon ibu pun harus ekstra ketat memelihara kehamilannya. Sejak dinyatakan hamil harus rajin control hingga 32 minggu. Setelah itu dimonitor terus satu kali dalam dua minggu.

Hal yang kerap dialami ibu hamil diatas usia 35 tahun adalah pre-eklamsia, atau naiknya tekanan darah. Sering terjadi keracunan kehamilan hingga ibu harus lebih berhati-hati. Apalagi jika bayi yang dikandung ikut terkena, bisa fatal bagi keduanya.

Kemungkinan keguguran pada perempuan yang mengandung anak pertama di usia 35 tahun ke atas, yaitu sekitar 20 persen. Keguguran terjadi dibawah usia 16-20 minggu. Kalau pun lahir pada usia 20, 36 atau 40 minggu, bayi lahir premature dan memiliki berat badan sekitar 2.5 kg. Kalau bayi telah melewati usia tersebut , bayi akan lahir matang karena telah cukup umur.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *